Kiprah Entrepreneur Alumni Gontor di Dunia Pesantren

6 Views
kisah inspiratif datang dari Ustadz H Agus Maulana, alumni Gontor 1992 asal Subang
kisah inspiratif datang dari Ustadz H Agus Maulana, alumni Gontor 1992 asal Subang

Oleh Muhammad Khaerul Muttaqin

Sejak tahun 1926, Gontor telah memantapkan langkah sebagai lembaga pendidikan yang bertugas mendidik kader umat pemimpin masa depan, mencerdaskan bangsa, sekaligus menjadi mundzirul qaum yang terus berdakwah pada kebenaran dan menolak kebatilan.

Jika melihat kondisi pada zamannya, bukan hal mudah bagi Gontor untuk mempertahankan misi sebesar itu. Namun nyatanya, hingga kini Gontor telah genap berusia 100 tahun dan tetap eksis mengemban amanat tersebut, dengan belasan kampus cabang dan ratusan pondok alumni yang berdiri di berbagai daerah di seluruh Indonesia.

Alumni-alumninya pun banyak yang telah berkiprah dan menunjukkan kontribusi nyata bagi umat Islam. Ada banyak pengusaha alumni Gontor tidak hanya membangun karier bisnis, tetapi juga menjadikan dakwah sebagai bagian hidup mereka, selanjutnya dengan mengajar orang-orang di sekitar atau ikut memajukan dunia pendidikan.

Dari Santri Menjadi Kiai Bengkel

Salah satu kisah inspiratif datang dari Ustadz H Agus Maulana, alumni Gontor 1992 asal Subang, CEO dan Owner dari Agus Lio Ban Group yang mempunyai jaringan toko ban dan bengkel di Subang, Indramayu, dan Majalengka. Ia juga mensupport pendirian unit bisnis produktif Gontor Auto Service di Ponorogo yang belum lama ini diresmikan.

Sebenarnya Agus adalah generasi kedua, melanjutkan bisnis orang tua yang merintis dari nol. Didirikan sejak 1988, usaha ini berawal dari tambal ban sederhana di pinggir jalan sebelum berkembang menjadi penyedia layanan otomotif lengkap.

Sepulang dari Gontor, awalnya ia hanya membantu meringankan beban orang tua. Tapi karena mengalir juga darah bisnis dalam dirinya, usaha ini kemudian berkembang pesat. Usaha yang dikembangkannya sejak tahun 2000 kini melayani berbagai kebutuhan mulai dari ganti oli, ganti ban, spooring, balancing, variasi dan kebutuhan lainnya.

Bukan hanya peralatan yang memadai, kualitas mekanik dan layanannya pun terbaik. Agus Lio Ban Group menunjukkan prestasi sebagai perusahaan otomotif. Toko Model Bridgestone Terbaik Tingkat Provinsi maupun Nasional, The Best Innovation Store, dan berbagai penghargaan lainnya.

Profil Singkat

Ustadz H Agus Maulana
Alumni Gontor 1992 asal Subang, CEO dan Owner dari Agus Lio Ban Group.

“KH Hasan pernah berpesan agar saya menjadi Kiai Bengkel saja, dan menjadikan karyawan sebagai santri. Seolah para santri, saya mewajibkan karyawan absen untuk shalat lima waktu, shalat dhuha, tilawah, serta mengajak mereka mengikuti Gerakan Wakaf, rutin berinfak dan berwakaf setiap habis gajian.”

Store 2010, Toko Best Upselling Performance 2021, serta berbagai prestasi lainnya.

Sebelumnya, pria lulusan S2 ini juga sempat menjadi dosen, namun terpaksa berhenti karena kesibukannya dalam menjalankan bisnis. Meski begitu, aktivitas dakwahnya tidak pernah berhenti. Melalui bisnisnya itulah CEO Agus Lio Ban Group ini berdakwah kepada karyawannya yang berjumlah sekitar 100 orang.

“KH Hasan pernah berpesan agar saya menjadi Kiai Bengkel saja, dan menjadikan karyawan sebagai santri. Seolah punya santri, saya mewajibkan karyawan absen untuk shalat lima waktu, shalat dhuha, tilawah, serta mengajak mereka mengikuti Gerakan Wakaf, rutin berinfak dan berwakaf setiap habis gajian,” ujarnya kepada Majalah Gontor.

Baginya, seperti itulah hakikat dakwah. Beliau memulai dari lingkungan terdekat, lalu merambah ke masyarakat secara luas. Bersama beberapa rekannya, ia menginisiasi Yayasan Amal Wakaf Indonesia (Yakafi) dengan salah satu program; memberi dukungan kepada pesantren-pesantren yang belum memiliki sistem instalasi air minum untuk santri.

Selain itu, Ketua PC IKPM Gontor Subang ini juga tercatat sebagai Ketua Dewan Pembina Pondok Modern Darul Falah Cimenteng yang sejak awal diantarkan sebagai pondok wakaf. Dengan spirit itu ia tidak ada rasa memiliki pribadi di sana sehingga ia bisa ikut berusaha memberi dukungan melalui unit-unit usaha, baik di dalam maupun di luar pondok.

Harapannya, dengan memberi dukungan kepada karyawan, memberi dukungan kepada pesantren dan lingkungan sekitar melalui pesantren di lingkungan YAKAFI, ditambah menjalin relasi dengan para pengusaha di FORBIS dan rekan-rekan FPA, bisnis menjadi sarana dakwah. Bukan sekadar bisnis, melainkan bisnis yang lahir untuk dakwah.

Keberhasilannya dalam berwirausaha mengantarkan Ustadz Agus Maulana terpilih sebagai Ketua Umum Forum Bisnis (FORBIS) IKPM Gontor, wadah bagi para pengusaha alumni Gontor yang tersebar di berbagai daerah dan menekuni beragam bidang bisnis. Pencapaian ini menjadi bukti bahwa santri mampu bersaing di dunia bisnis.

Merintis Pesantren, Memenuhi Impian Ibunda

Ustadz Sefi Khirijil Yaman, sering disapa Kang Sefi, alumni Gontor angkatan 1995 sekaligus pemilik pabrik saus dan kecap di bawah bendera PT Surabraja.

Pemilik memproduksi Rotibis IKPM Gontor, Wakil Ketua Umum FORBIS IKPM Gontor ini juga menempati Cheris Resto yang tersebar di Timur Tengah.

Sefi menjelaskan, Surabraja merupakan usaha keluarga yang dirintis oleh almarhum ayah dan Hajjah Ibuhan pada 1960. Sejak usianya wafat dan anak-anaknya masih kecil, Rufiah sebagai single parent bagi 13 anak menjadi penerus usaha keluarga yang produksi kecap dan saus Surabraja yang kini tumbuh menjadi merek lokal yang diperhitungkan.

Kini perusahaan ini telah memasuki generasi ketiga, menandai perjalanan panjang penuh dedikasi dan inovasi. Pada tahun 2025, tepatnya pada 11 Maret 2025, PT Sri Jaya Bawdi Group (Rupiah/SBCR) atau yang dikenal sebagai Surabraja, mulai melakukan ekspor perdana kecap manis halal ke Arab Saudi.

Terkenal sebagai pengusaha sukses, Kang Sefi juga merintis Mahad Tahfidz Khadijah di Cirebon, pesantren tahfidz yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada awal Agustus 2025.

Dari niat perjuangan dan keteladanan Ibu Rufiah, tumbuh sebuah lembaga tahfidz yang insya Allah akan melahirkan generasi Qur’ani dan pejuang dakwah masa depan.

Pada hari Ahad, 3 Agustus 2025, semua langkah diarahkan ke satu titik, sebuah lahan wakaf tempat harapan baru ditanamkan di Mahad Tahfidz Khadijah. Gedung pertama Ma’had Tahfidz ini diberi nama Rufiah Building, sesuai nama ibunda tercinta, sosok tangguh yang berusia 93 tahun itu juga hadir langsung di lokasi peletakan batu pertama.

Sefi meninggalkan statusnya sebagai pebisnis, ia berbicara sebagai seorang anak yang sedang mempersembahkan bakti terbaik untuk ibunya. Di sebuah lahan wakaf di sudut kota Cirebon, Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor KH Hasan Abdullah Sahal dan KH Akhm Martyadi datang untuk peletakan batu pertama Mahad Tahfidz Khadijah.

Hati itu satu impian Hajjah Rufiah menjadi kenyataan, anaknya membangun pesantren. Impian itu disimpan rapat sejak Sefi kecil pertama kali menjejakkan kaki di Gontor. Ia mendambakan ada di antara anak-anaknya yang kelak membangun pesantren. Kini, di usia senja, ia menyaksikan mimpi itu menjadi kenyataan.