
Di sebuah bengkel yang dulu hanya berdiri sederhana di pinggir jalan, suara palu dan bau karet perlahan tumbuh menjadi kisah tentang perjuangan, kebermanfaatan, dan pengabdian. Dari tempat yang tampak biasa itulah, Agus Maulana belajar bahwa bisnis bukan semata mencari keuntungan, melainkan jalan panjang untuk menebar manfaat bagi pendidikan, dakwah, dan pemberdayaan umat.
Dia merupakan seorang pengusaha sukses, CEO sekaligus pemilik Agus Lio Ban Group di kawasan Subang, Jawa Barat. Perusahaan yang berdiri sejak 1988 tersebut bermula dari usaha tambal ban sederhana di pinggir jalan yang dirintis ayahnya, H. Agus Hamid.
Alumnus Pondok Modern Gontor tahun 1992 itu mengakui bahwa didikan Gontor dan darah bisnis yang mengalir dalam dirinya menjadi fondasi penting perjalanan usahanya. Kini, Agus Lio Ban Group telah berkembang menjadi enam cabang. Bahkan salah satunya menjadi wakaf profesi yang didedikasikan untuk Pondok Modern Gontor melalui dukungan pendirian Gontor Auto Service di Ponorogo.
Agus Lio Ban merupakan perusahaan jasa otomotif yang dikenal sebagai salah satu bengkel terlengkap di Kabupaten Subang. Perusahaan ini juga memiliki kepedulian tinggi terhadap pendidikan anak-anak kurang mampu di pelosok serta berbagai program sosial lainnya.
Sejumlah prestasi berhasil diraih Agus Lio Ban Group, di antaranya sebagai Toko Model Bridgestone Terbaik tingkat provinsi maupun nasional, serta penghargaan The Best Innovation Store 2010 dan berbagai penghargaan lainnya.
“Ini merupakan spirit atau cita-cita besar, bagaimana orang-orang yang terlibat dalam pengelolaannya dapat memberikan layanan terbaik sekaligus manfaat besar bagi masa depan bangsa melalui dukungan pendidikan dan pemberdayaan masyarakat,” terang Agus, yang juga menjabat Ketua Toko Model Bridgestone Jawa Barat selama 15 tahun berturut-turut.
Ia mengenang pesan KH Hasan Abdullah Sahal yang memintanya agar tidak perlu menjadi kiai pondok, melainkan cukup menjadi “kiai bengkel”. Pesan itu kemudian benar-benar ia jalankan. Para karyawan diperlakukan layaknya santri yang dibina dan dididik. Di lingkungan bengkel, para karyawan diwajibkan menjalankan shalat lima waktu, shalat dhuha, tilawah, gerakan wakaf setiap selesai menerima gaji, serta rutin berinfak.
“Saya merasakan bahwa bisnis sejatinya bukan untuk bisnis semata, tetapi bagaimana kita bisa mengarahkan bisnis untuk dakwah dan pengembangan pendidikan. Inilah investasi sesungguhnya,” ungkapnya.
Semangat tersebut mengantarkannya menjadi Ketua Dewan Pembina Pondok Modern Darul Falah Cimenteng, sebuah pondok kecil berbasis wakaf di pelosok Subang. Meski baru berusia delapan tahun, Darul Falah kini telah memiliki lahan lebih dari 15 hektare dengan jumlah santri hampir 400 orang.
Berbagai unit usaha wakaf produktif terus dikembangkan pondok tersebut. Salah satunya adalah kawasan terpadu wakaf produktif Data Dream Land yang mencakup sektor pertanian, peternakan, camping ground, hingga eduwisata. Di lahan wakaf itu juga lahir berbagai produk wirausaha, salah satunya UMI Air Cimenteng yang kini dipasarkan ke berbagai coffee shop dan masyarakat umum.
Sejak 2016 hingga sekarang, Agus menempati amanah sebagai Ketua Umum Forum Bisnis Alumni IKPM Gontor yang menaungi para alumni Gontor di bidang usaha dan bisnis. Kiprahnya pun semakin luas, memadukan dunia bisnis dengan dakwah dan pengembangan pesantren.
Untuk memperluas manfaat dan investasi akhirat, Ustadz Agus aktif membantu banyak pesantren, khususnya dalam pengembangan ekonomi pondok. Ia juga dipercaya menjadi anggota Badan Wakaf di sejumlah pesantren.
Baginya, hidup harus dijalani dengan penuh arti dan manfaat. Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
“Kesuksesan bisnis, amanah organisasi, dukungan dakwah dan pesantren, semuanya menjadi modal dasar bagi kebermanfaatan kita. Semoga kami bisa istiqamah,” pungkasnya.






